Bagaimana mungkin mata yang dulunya memandang dengan penuh binar berubah menjadi sayu dan tak acuh? Bagaimana mungkin bibir yang selalu tersenyum itu sontak merengut? Bagaimana mungkin kata-kata yang tadinya membuat melayang malah sekarang menjatuhkan? Mungkin jawabannya cuma satu. Dia sudah menyerah. Mungkin karena kami masih terlalu muda. Ataupun karena kami berbeda warna kulit, leluhur dan keyakinan. Gebrakan apa yang bisa dilakukan oleh bocah berusia 14 tahun seperti kami ini? Tahu apa kami soal cinta? Tidak ada. Tidak ada yang kami ketahui tentang kehidupan dan perasaan orang dewasa itu. Kami hanyalah anak kecil yang sedang menjalani masa transisi dan saling menemukan. Atau lebih tepatnya, dia yang menemukanku. *cakap sampah*
Semuanya berawal dari media sosial. Ya, kami hanyalah anak muda yang terperangkap dalam dunia maya. Seolah-olah sudah mengenal satu sama lain, saling mengerti, atau sok mengerti lebih tepatnya, dan yang paling terakhir, terbawa suasana.
Merasa nyaman dan merasa sok iya dengan keadaan kami ini, aku pun menyimpulkan bahwa dia mempunyai maksud lain dari percakapan sehari-hari yang kami jalani. Dia tidak pernah jenuh, mengeluh apalagi mengabaikan. Tutur katanya pun selalu sopan, lembut dan bersemangat, sama sepertiku.
Beberapa minggu setelah aku merasa telah mengenalnya, aku pun menyimpulkan bahwa aku kagum sama doi. Entah itu dari cara ia bercerita, atau dari lesung pipinya. Yang jelas bukan dari mukanya. Karena seingatku, dia tidaklah setampan diCaprio sewaktu muda. Dia lebih mirip Siwon Super Junior kw 15. Well, intinya dia itu manusia super. Super pesek, super sipit, super putih –dibandingkan aku– dan super tinggi. Ohiya, satu lagi, super gombal. Cikiciw
Siapa sangka aku yang pada waktu itu berciri-ciri dengan tubuh dan berambut pendek, dekil, kasar, berkulit gelap, berkawat gigi, slenge'an, urakan, yolo, heboh, maniak, kepo dan kalau jalan gak pernah bisa rapat kakinya alias rada ngangkang, bisa juga deket sama cowok super kayak doi. Tapi biarpun secara fisik kami gaada mirip-miripnya, kalau sedang ngobrol ngalur ngidul, ataupun ngeguyon, gak ada yang bisa nandingin kekompakkan dan kegilaan kami.
Dan semuanya semakin terasa nyata semenjak kata orang-orang ia sering memperhatikan gerak-gerikku. Aku sendiri pun sering menangkap basah arah tatapan matanya. Semenjak itu, aku berubah menjadi sok stay cool, stay calm, stay pretty and stay fabulous. Walaupun yang terakhir cuma wacana semata. Tapi memang benar, akibat dari rasa suka yang menimpa, aku menjadi lebih berjiwa perempuan. Mulai dari pake lip balm sebelum ke sekolah, pake parfum, pake rok kemana-mana, rambut dijepit dan di-roll tiap hari. Iya, intinya jadi rempong.
Dan siapa bilang aku satu-satunya pihak yang berubah menjadi lebih baik? Nyatanya dia pun tak kalah dalam memperhatikan penampilannya, yang dulunya pake sendal crocs kemana-mana, celana ponggol, eh taunya sekarang udah ngehitz gitu gayanya. Udah lebih sering pake kemeja ataupun polo shirt, celana jeans panjang, sneakers. Yang gak diganti cuma kacamata-super-tebel-minus-tujuh-no-frame nya dia, which is, aku gaada masalah sama sekali. Malah keliatan kayak genius sekaligus bikin penasaran, hem.
Walaupun setelah dipikir-pikir, begitu doi berubah menjadi lebih cakep, bertambahlah cewek-cewek yang ngantri. Dan saya pun dengan sok-berhati-malaikat rela mundur untuk berdiri di antrian paling belakang.
Sebenarnya masih panjang lagi ceritanya, tapi karena aku rasa kalian udah tau ujungnya kemana, dan berhubung akunya juga sudah move on, jadi aku rasa gak perlu lagi aku jabarin ya hehew. Siapa sangka akibat dari mendengarkan lagu Take Me To Church - Hozier bisa bikin aku curcol kayak gini? Hahaha. Selamat malam, sodara. 😁
Tidak ada komentar:
Posting Komentar